Sensasi Berwisata di Desa Wisata Nglanggeran Yogyakarta

Desa Wisata Nglanggeran yang berada di Yogyakarta, masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia bersama tiga desa wisata di Indonesia lainnya.(Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)
Desa Wisata Nglanggeran yang berada di Yogyakarta, masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia bersama tiga desa wisata di Indonesia lainnya.(Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

SURYAYOGYA.COM – Jalan-jalan di obyek wisata merupakan pilihan yang tepat saat libur namun tetap menjaga jarak.

Satu tempat yang menarik dikunjungi adalah Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta. Di desa ini pengunjung dapat menikmati  sensasi sendiri.

Dari Yogyakarta, Nglanggeran bisa dituju melalui tiga akses. Desa Wisata Nglanggeran sendiri didominasi wisata alam seperti Gunung Api Purba Nglanggeran, Embung Nglanggeran, Desa Wisata Ngoro-oro, Kampung Pitu dan lainnya.

Gunung Api Purba Nglanggeran yang aktif sekitar 70 juta tahun lalu menjulang dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Gunung tersebut dikembangkan oleh masyarakat setempat menjadi salah satu obyek wisata alternatif yang menawarkan keunikan bentang alam yang tersusun dari material vulkanik tua.

Di pintu masuk kawasan gunung, pengunjung biasanya menuju loket pintu masuk dan membayar tiket masuk yang sekaligus merupakan karcis parkir. Dari sini, wisatawan akan trekking menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran.

Terdapat keunikan dan menjadi salah satu keunggulan Gunung Api Purba Nglanggeran yaitu pengadaan e-ticketing di loket pintu masuk.

Pihak pengelola menyadari akan pentingnya e-ticketing untuk mempermudah pelayanan menjadi lebih cepat, akurat, dan ramah lingkungan.  Jika wisatawan yang datang merupakan rombongan, biasanya akan dilakukan briefing terlebih dahulu oleh pemandu wisata di pendopo.

Kemudian, para peserta akan diberikan informasi apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh selama trekking. Sebelum pandemi, Gunung Api Purba Nglanggeran tidak mengenal waktu tutup operasional atau dalam kata lain buka selama 24 jam dalam satu minggu.

Usai diberikkan briefing, peserta akan memulai trekking selama 15 menit untuk sampai ke Pos 1 Gunung Api Purba Nglanggeran. Pada pos ini, peserta bisa berfoto-foto suasana atau pemandangan hutan, dan dinding berbatu yang terlihat di sekitar.

Kemudian, peserta akan melewati lorong sumpitan. Lorong ini terbilang sempit dan hanya memuat kapasitas satu orang untuk melewatinya, sehingga peserta biasanya harus mengantre.

Saat tiba di puncak Gunung Api Purba Nglanggeran yang berketinggian 700 mdpl ini. Terdapat dua puncak yaitu puncak barat atau puncak Bagong dan puncak timur yang berlokasi di Kampung Pitu.

Wisatawan dapat melihat pemandangan menakjubkan seperti embung Nglanggeran, dan Gunung Merapi.

Dari puncak Gunung Api Purba Nglanggeran, wisatawan bisa menjelajahi Embung Nglanggeran dengan menggunakan kendaraan mobil Pajero. Pajero yang dimaksud merupakan kendaraan pick-up terbuka dan memiliki akronim panas njobo njero atau dalam bahasa Indonesia berarti panas luar dalam.

Bukan tanpa alasan, wisatawan yang naik “Pajero” ini akan merasakan sensasi sengatan matahari khas Gunungkidul hingga sampai ke Embung Nglanggeran. Jarak Embung Nglanggeran cukup dekat, hanya sekitar 1,5 kilometer dari Gunung Api Purba Nglanggeran.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan melihat banyaknya pohon kakao yang mana diolah menjadi oleh-oleh khas Nglanggeran yaitu cokelat. Sampai di lokasi, tampak area parkir cukup luas dan dapat menampung kendaraan besar seperti bus.

Embung Nglanggeran sendiri merupakan telaga buatan yang berfungsi untuk menampung air hujan dan dimanfaatkan untuk mengairi perkebunan setempat pada musim kemarau. Oleh sebab itu, di sini ada kebun buah klengkeng dan durian seluas 20 hektar.

Untuk sampai ke embung, peserta perlu mendaki atau trekking selama 7-10 menit. Kemudian peserta dapat melihat visualisasi embung seluas 0,34 hektar dengan kedalaman sekitar 4 meter.

Jika berkunjung langsung, peserta biasanya dapat bermain layang-layang dan mengunjungi kebun buah bahkan memetiknya.

BACA JUGADesa Panggungharjo Hadapi Covid-19 dengan Kearifan Lokal, Begini Caranya

BACA JUGA: Ini Dia Strategi Pengembangan Ekonomi Digital di Yogyakarta