EDITORIAL: Goweser Meninggal dan Pengayuh Becak Wajib Pakai Masker

Turis naik becak. (Foto: Akurat)
Turis naik becak. (Foto: Akurat)

UNIT Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro menyatakan bahwa para pengayuh becak dan kusir andong wajib mengenakan masker saat memasuki kawasan Malioboro, pusat Kota Yogyakarta.

Itu merupakan bagian dari protokol kesehatan yang wajib dipatuhi semua orang ketika berada di tempat-tempat ramai atau berdekatan dengan orang lain.

Kewajiban mengenakan masker bagi pengayuh becak dan kusir andong akan dijalankan secara tegas mulai Senin 22 Juni 2020 mendatang.

Ketegasan dalam menerapkan protokol kesehatan ini sangat penting demi mencegah penularan virus corona (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19.

Namun di sisi lain, terutama bagi pengayuh becak, itu menyimpan bahaya lain bagi keselamatan pengayuh becak itu sendiri.

Apalagi mereka mengayuh becak sambil membawa penumpang atau muatan berat, akan semakin membahayakan keselamatannya.

Baru-baru ini Sri Sultan Hamengku Buwono X sendiri mengingatkan para pesepeda untuk berhati-hati saat gowes atau bersepeda sambil mengenakan masker.

“Kita pakai masker itu mengurangi oksigen yang masuk di otak kita. Jadi, kalau pakai sepeda, muter 20-30 kilometer, hati-hati pakai masker. Jangan terus-menerus, nanti pingsan, gitu lho. Bisa bye-bye,” ujar Sultan di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Kamis (11/6/2020).

Ada beberapa fakta goweser meninggal saat gowes sambil mengenakan masker. Meski ada perdebatan mengenai hal itu, tetapi secara ilmiah, tidak dianjurkan gowes sambil mengenakan masker.

Jika berbahaya bagi gowes sepeda yang tanpa beban sambil memakai masker, apalagi gowes becak dengan membawa beban sambil memakai masker? Belum lagi jika penarik becaknya sudah cukup berusia.

Bukankah itu akan lebih berbahaya?

Klik Lanjut: Ada alasan ilmiah…