Pakar Kesehatan UGM: Provinsi DI Yogyakarta Masuk Zona Kuning

Kategori zonasi Covid-19. (Grafis Humas DIY)
Kategori zonasi Covid-19. (Grafis Humas DIY)

YOGYAKARTA, SURYAYOGYA.COM – Pakar Kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dr. Riris Andono Ahmad menyatakan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih zona kuning.

Pakar kesehatan UGM tersebut menyatakan hal itu untuk menjawab banyaknya pertanyaan masyarakat DIY mengenai kategori zonasi Covid-19 DIY, ketika dihadirkan dalam rapat koordinasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Jumat.

Rapat dilaksanakan di Ruang Pusdalop BPBD DIY, juga dihadiri oleh Kepala Pelaksana BPBD DIY Biworo Yuswantono, Dinas Kesehatan DIY, dan Dinas Kominfo DIY.

Riris menjelaskan bahwa DIY bisa dianggap sebagai satuan epidemiologi dan di dalamnya ada sub-sub populasi.

“Akan coba dibuat zonasi granular terkait dengan yang telah disebutkan sebelumnya,  yakni untuk penanganan atau membantu masyarakat bisa memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan pada konteks tersebut,” jelasnya.

Pembuatan zonasi granular (lebih kecil tingkatannya) disebabkan karena secara general, situasi DIY dapat dikategorikan sebagai zona kuning pada level provinsi.

Namun sejatinya juga perlu dilihat bahwa hal tersebut tak bisa dipukul rata di semua tempat, sehingga dibutuhkan adaptasi.

“Zonasi menurut pusat kan ada 4, yaitu merah, oranye, kuning, dan hijau, secara umum seperti itu. Jadi bagaimana kita menyesuaikan dengan itu. Pada level provinsi, kita memang zona kuning, tapi setiap kabupaten dan kota juga melakukan zonasi mandiri sesuai mekanisme masing-masing,” tambah Riris.

Oleh karenanya, akan digelar rapat lanjutan antara kabupaten dan kota guna menyamakan persepsi, level, dan juga tolak ukur peningkatan, bagaimana epidemiologi akan terkait, sehingga jadi pada aspek risiko itulah yang akan disepakati,” tambahnya

Riris menambahkan, “DIY kan beda dengan Jateng, lebih cenderung mirip DKI, kecil, dan interaksi tinggi. Semua Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota punya kapasitas melakukan penghitungan. Koordinasi dan sinkronisasi selanjutnya akan diperlukan agar semua sepakat kita berada di zonasi apa.”(*)

Editor: Eddy Mesakh | Sumber: Humas Pemda DIY