Dibentak-bentak, Orias Moedak Justru Disalahkan oleh Rekan Muhammad Nasir dari Partai Demokrat

Sartono Hutomo (Capture video)
Sartono Hutomo (Capture video)

SURYAYOGYA.COM – Rekan Muhammad Nasir dari sesama Partai Demokrat di Komisi VII DPR RI, Sartono Hutomo, terkesan membela rekannya dan menyalahkan Direktur PT Inalum Petrus Orias Moedak dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Padahal, dalam rekaman RDP di akun facebook resmi DPR RI yang diakses Suryayogya.com, Rabu (1/7/2020), Orias lebih banya diam dan sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan Muhammad Nasir, yang tak lain kakak kandung M Nasarudin,  mantan Bendahara Umum Partai Demokrat.

Politisi demokrat Sartono Hutomo, anggota DPR-RI Dapil Jatim VII membela rekannya M Nasir yang marah-marah dan membentak Dirut PT Inalum Orias Petrus Moedak.

“Dalam tata acara rapat kerja dengan kementerian, baik itu rapat dengar pendapat, itu ada tata bicaranya. Dan saya pikir, yang kita panggil ke sini, itu mendengarkan saja.”

“Baru nanti ada waktu menjawab. Itu saya pikir tata bicara kita. Dan, saya baru kali ini ni.. mendapat apa.. saur manuk, istilahnya, bahasa Jawanya. Jadi, itu yang bikin suasana tidak baik, saya pikir pimpinan.”

“Dan saya pikir juga suatu saat perlu diingatkan dalam posisi kita mendengarkan apa yang
ditanyakan kita menjawab begitu aja, Pak Dirut. Jadi, kalau ndak ya yang tadinya harus sudah selesai menjadi panas. dan betul kita harus  sampaikan kepada mitra kerja kita.

“Kementerian kan sebetulnya, yang ditunjuk Presiden untuk wakili Presiden. Harusnya kan Presiden yang datang hadir di sini. Tetapi karena ada menteri ya menterilah diwakilkan. Karena kita rapat dengar pendapat. Mendengarkan saja gitu. Ada yang perlu dijawab ya dijawab.”

“Tapi tidak terus terjadi apa itu, saling gitu ya… saling apa, saur-sauran lah yang terjadi. Dan saya pikir itu ndak pas untuk terjadi. Dan ini menjadi catatan kita untuk ke depan harus diingatkan sebelum rapat kerja, tata bicaranya kita bacakan juga. Terima kasih pimpinan.”(*)

Penulis: Eddy Mesakh