Rajurit Jogja Sabet Juara Satu Festival Bregada Rakyat DIY

Penulis: Gaga Sallo

Sementara BPH. Kusumo Bimantoro mengatakan keserasian dan kekompakan tata lampah bregada rakyat perlu terus ditingkatkan. Bregada rakyat berbeda dengan kelompok pleton inti baris berbaris, ia lebih sebagai seni berjalan yang melangkah berdasar irama hati yang diiringi gending keprajuritan yang khas.

Putra sulung KGPAA. Paku Alam X ini juga memberikan masukan agar para pelaku bregada perlu mengetahui perbedaan antara lampah rikat dengan lampah macak. Lampah rikat adalah cara berjalan cepat. Sementara lampah macak merupakan cara berjalan penghormatan. Menurutnya bregada rakyat lebih tepat memakai lampah rikat.

Catatan tambahan menarikĀ  juga disampaikan Bambang Paningron. Menurutnya aspek tata musik atau ungel-ungelan memiliki peran sangat signifikan. Gending bukanlah sekedar pelengkap atau sesuatu yang hanya disisipkan semata. Sebab gending bregada adalah justru elemen yang pertama kali menarik perhatian orang. Oleh karena itu dirinya berpesan agar gending bregada dikreasi semenarik mungkin agar menambah daya pikat saat tampil di tengah khalayak luas.(*)