Kondisi Kritis Usaha Perhotelan Di Yogyakarta, 30 Hotel Sudah Bangkrut

Penulis : Gaga Sallo

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Deddy Pranowo ketika dihubungi suryayogya.com, Selasa (19/01/2021) menjelaskan bahwa dari 400 lebih anggota PHRI DIY saat ini mengalami kategori kritis 200 lebih hotel, 30 lebih hotel bahkan sudah mati dan selebihnya dalam keadaan darurat.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Deddy Pranowo ketika dihubungi suryayogya.com, Selasa (19/01/2021) menjelaskan bahwa dari 400 lebih anggota PHRI DIY saat ini mengalami kategori kritis 200 lebih hotel, 30 lebih hotel bahkan sudah mati dan selebihnya dalam keadaan darurat.

YOGYAKARTA, SURYAYOGYA.COM –Saat pandemi Covid-19 menyerang berbagai usaha terkapar dan gulung tikar. Hal yang sama dirasakan juga oleh usaha perhotelan di Yogyakarta terkena imbas pandemi covid -19 saat ini.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Deddy Pranowo ketika dihubungi suryayogya.com, Selasa (19/01/2021) menjelaskan bahwa dari 400 lebih anggota PHRI DIY saat ini mengalami kategori kritis 200 lebih hotel, 30 lebih hotel bahkan sudah mati dan selebihnya dalam keadaan darurat.

Dikatakan kondisi ini karena wabah pandemi covid- 19 yang menyerang Indonesia khususnya Yogyakarta dan ditambah lagi kebijakan Pengetatan Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) mulai 11 hingga 25 Januari 2021.

Deddy Pranowo dalam masalah ini meminta relaksasi kepada pemerintah dan mengusulkan rapid antigen di gratiskan, sehingga dengan adanya solusi itu pengusaha perhotelan dapat terbantu dari beban yang sangat besar ini.

.BACA : Dandim 0732/Sleman dan Forkopimda Disuntik Vaksin Covid-19

.BACA : Vaksin Covid-19 Tiba Yogyakarta, Polda DIY Perketat Penjagaan

.BACA : Perdana Gunakan Alat Genose C19 Polda DIY Menyatakan Lima Menit Hasil Keluar

“Kita hanya butuh relaksasi dari pemerintah dan mengusulkan rapid antigen di gratiskan,” ujarnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ketua Himpunan Hotel Hotel Yogyakarta (H3Y) Rahmanda Mutia Primardani kepada suryayogya.com ketika ditemui di ruang kerjanya Selasa (19/01/2021).

Dijelaskan bahwa kondisi perhotelan saat ini memang terdampak akibat kebijakan PTKM terlebih terhadap tingkat occupancy yang tidak begitu membaik.

Namun, bagaimanapun industri perhotelan sudah secara konsisten untuk mengkampanyekan prokes yang diterapkan di hotel melalui berbagai platform promosi.

Kami berharap dengan konsistensi dalam menerapkan prokes serta sinergi dalam promosi wisata dengan para sektor pariwisata dapat membangkitkan Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman untuk dikunjungi.(*)

Editor : Sudianto Pane