“Empati Demi Sebuah Keharmonisan”, Suara Anak Tanah Lembata Lamalera, Misionaris Indonesia yang Kini Bertugas di Jerman

Penulis: P. Noker Keraf, CSsR

Misionaris muda Asal Lembata Lamalera yang kini tugas perutusan di Jerman P. Noker Keraf, CSsR
Misionaris muda Asal Lembata Lamalera yang kini tugas perutusan di Jerman P. Noker Keraf, CSsR

SURYAYOGYA.COM – Salah satu efek dari jarak sosial (social distancing) adalah kita ditinggalkan lebih dari biasanya, dengan diri kita sendiri. Tidak ada komunikasi. Kita mengalami sesuatu yang menantang, hanya berharap seseorang memahami sudut pandang kita. Kita membutuhkan empati pada saat itu, sebuah konsep yang menjadi lebih umum di masyarakat, namun kadang diremehkan.

Sebagai masyarakat, kesadaran kolektif kita berkembang dan menjadi lebih pengertian, egaliter, dan hormat.

Satu hal yang dapat kita lakukan untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik adalah dengan melatih lebih banyak empati, sebuah praktik yang akan mengangkat semua orang di sekitar untuk berempati.

Dengan tantangan yang kita hadapi bersama saat ini, adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan empati dan menciptakan ruang gerak cinta dan harmoni bagi orang lain.

BACA JUGA: 

Kita semua ingin dimengerti. Pada saat menghadapi tantangan atau krisis, kita perlu merasa bahwa emosi kita diterima dan dikenali oleh orang lain.

Empati adalah “kemampuan untuk memahami secara emosional apa yang orang lain rasakan, melihat sesuatu dari sudut pandang mereka, dan membayangkan diri kita di tempat mereka.” Dalam konteks saat ini, empati juga dipahami sebagai sikap keberpihakan pada dan bersama dengan orang (atau alam) yang sedang mengalami musibah, atau penderitaan.