Buntut Dari Perambahan Hutan Di Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka NTT, Inilah Respon Tokoh Adat Dan Budaya

Penulis : Gaga Sallo

Leopoldus Maring salah satu Toko Budaya dan adat yang berada di Desa Kloangpopot angkat bicara soal perambahan hutan di dua desa Wolomotong dan kloangpopot.
Leopoldus Maring salah satu Toko Budaya dan adat yang berada di Desa Kloangpopot angkat bicara soal perambahan hutan di dua desa Wolomotong dan kloangpopot.

YOGYAKARTA, SURYAYOGYA.COM – Menanggapi aksi brutal perambahan hutan oleh 64 oknum KK warga dua Desa Kloangpopot dan Desa Wolomotong Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka Provinsi NTT yang dengan sengaja membuka kawasan hutan di wilayah masing-masing, membuat Leopoldus Maring salah satu Toko Budaya dan adat yang berada di Desa Kloangpopot angkat bicara.

Kepada suryayogya.com Rabu 12/05/2021 melalui hubungan telepon dijelaskan bahwa kerusakan hutan di dua wilayah tersebut merupakan faktor dimana masyarakat tidak paham dan patuh terhadap aturan adat dan pesan-pesan leluhur sebelumnya.

Dikatakan manusia semakin serakah dengan mengejar kepentingan semata tanpa memperhatikan dampak dari merusak hutan.

.Baca : Pemda Tidur Nyenyak, Masyarakat Dua Desa di Kabupaten Sikka NTT Telanjangi Hutan

.Baca : Brimob Polda DIY Hadir Untuk Bencana NTT Di Yogyakarta

Pensiunan guru Sekolah Dasar ini sangat menyayangkan akan tindakan-tindakan dari beberapa anggota masyarakat dari dua desa tersebut yang kian mengancam hajat hidup orang banyak.

Sebagai toko budaya Ia menaruh harapan kepada pemerintah Kabupaten Sikka dan Dinas Lingkungan Hidup Propinsi NTT agar secepatnya merespon tentang aksi-aksi pengerusakan hutan, agar tidak semakin parah.

“Ia saya sebagai tokoh adat dan budaya sangat prihatin atas tindakan pembalakan hutan, jika ini dibiarkan maka daerah yang dulunya terkenal dengan banyak air kini dilanda kekeringan serta ancaman bencana longsor,” pintanya.

Leopoldus yang juga aktif di dunia pertanian ini kembali menjelaskan tentang tatanan kehidupan yang harmonis antara manusia dengan alam yang diwariskan oleh para leluhur Maumere Kabupaten Sikka dari dulu sebagai ajang untuk menjaga keutuhan alam serta kehidupan sekitar.