Kasus Penggundulan Hutan Di Kabupaten Sikka NTT, MAFI Indonesia Minta Pembekuan Ijin IUPHKM

Penulis : Gaga Sallo

Petugas dari Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan ( UPT KPH) Kabupaten Sikka didampingi oleh Ketua RT setempat berjalan menyusuri hutan yang telah gundul oleh ulah 64 KK yang menebang semua pohon yang sebelumnya ada.
Petugas dari Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan ( UPT KPH) Kabupaten Sikka didampingi oleh Ketua RT setempat berjalan menyusuri hutan yang telah gundul oleh ulah 64 KK yang menebang semua pohon yang sebelumnya ada.

YOGYAKARTA,SURYAYOGYA.COM – Kasus pembalakan hutan oleh oknum warga di dua Desa Kloangpopot dan Wolomotong, Kecamatan Doren Kabupaten Sikka NTT mendapat respon dari Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAPI Indonesia).

MAFI meminta jika terdapat indikasi pelanggaran dalam pengelolaan hutan maka Pemerintahan sesegerah mungkin membekukan ijin IUPHKM sebagai opsi terbaik.

Hal ini dikemukakan oleh Sekjen MAFI M. Siarudin dan Ketua Umum MAFI Dr. Priyono Suryanto kepada suryayogya.com Kamis 20/05/2021.

.Baca : Gerak Cepat Babinsa dan Aparat Pemerintahan Desa Datangi Lokasi Perambahan Hutan Di Kecamatan Doren Sikka NTT

Dijelaskan bahwa pada dasarnya MAPI Indonesia mendukung langkah yang dilakukan oleh instansi terkait dalam penanganan kasus perambahan hutan di Desa Kloangpopot dan Desa Wolomotong Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka.

Instansi terkait diharapkan lebih mengutamakan pendekatan persuasif dan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Namun tindakan tegas, termasuk pembekuan IUPHKM juga dapat menjadi opsi jika pelanggaran masih terus dilakukan.

Langkah ke depan yang dapat dipertimbangkan adalah pemanfaatan lahan dan hutan melalui pola agroforestri yang mengkombinasikan tanaman pohon dan tanaman musiman, sebagai jalan tengah untuk mempertahankan fungsi hutan dengan tetap memberikan akses untuk budidaya pertanian.

.Baca : Buntut Dari Perambahan Hutan Di Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka NTT, Inilah Respon Tokoh Adat Dan Budaya

Oleh karena itu, diperlukan program pendampingan yang lebih intensif dan menyentuh kebutuhan mendesak masyarakat, dengan melibatkan berbagai pihak.

Sesuai dengan data yang didapat suryayogya.com kerusakan hutan yang terjadi di dua desa sangat memprihatinkan dan menimbulkan dampak kekeringan sungai serta sumber mata air terus terjadi.

Masyarakat terpaksa mengkonsumsi air minum dengan mendatangkan air dari Daerah kota Maumere melalui mobil tangki untuk dibawa kedua desa tersebut, hal ini berbanding terbalik bahwa dulunya kedua desa tersebut banyak terdapat pasokan air yang berlimpah.(*)

Editor : Sudianto Pane