Seruan Putra Webetun Malaka NTT Dari Yogyakarta Tentang Petani Milenial

Penulis: Gaga Sallo

YOGYAKARTA, SURYAYOGYA.COM – Panen perdana cabai dilahan pertanian pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Bupati Sleman, Dandim dan Kapolres Sleman yang bertempat di Pakudukuhan Gedongan, Kelurahan Sinduadi, Kapananewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi suatu momentum bahwa pergerakan Milenial di bidang pertanian adalah sesuatu yang luar biasa dengan basic latar belakang pendidikan yang berbeda.

Bahwa memberikan suatu warna serta konsep dan Sumber Daya Manusia yang mumpuni akan melahirkan ide-ide kreatif yang nantinya menjadi sangat potensial.

Hal ini menjadi menarik oleh Epivianus Melkior Timu putra asal Desa Webetun, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur yang tergabung dalam kelompok petani mileneal NTT Nusantara Yogyakarta ketika ditemui suryayogya.com saat Panen Perdana Kebun Cabai, Selasa (21/12/2021).

Dikatakan bahwa dengan melihat tema acara panen perdana “Melihat Cangkul Tua” maka mahasiswa lulusan S1 Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta ini mengatakan bahwa pada saat ini anak muda sudah jarang tertarik dengan pertanian yang kemudian ini akan menjadi krisis bangsa saat ini.

“Pada dasarnya selama ini saya amati bahwa rata-rata petani berumur 60-an ke atas yang masih bertahan melakukan aktivitas bertani,” ujarnya

Dalam kesempatan ini pula mantan ketua Ikatan Keluarga Malaka Yogyakarta (IKAMAYO) tersebut mengatakan ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan nama baik orang NTT di Yogyakarta dengan kegiatan yang positif.

Selain itu juga menjadi suatu bekal ilmu dan pengalaman yang nanti suatu saat bisa diaplikasikan di NTT.

“Sebagai salah satu cara merubah citra orang NTT di Yogyakarta dengan hal-hal positif seperti ini. Disisi lain juga menjadi bekal ilmu dan pengalaman yang nanti bisa diterapkan di NTT dan khususnya Malaka,” Cetus pria kelahiran 6 Januari 1998 ini.

Melkior sapaan akrabnya berharap semoga petani milenial semakin bertambah dan semakin kokoh karena petani adalah penyangga tatanan negara sebagaimana dicetuskan oleh Bung Karno tahun 1952. (*)